Tugas 5
MACAM MACAM GANGGUAN PSIKOLOGIS
A. FOBIA
Ketakutan (fobia) adalah kecemasan yang luar biasa,
terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan eksternal
tertentu. Fobia adalah rasa ketakutan
yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat
menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan
takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut
sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya. Ada perbedaan
"bahasa" antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia.
Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara
seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa
lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak
atau tikus. Sementara dibayangan mental seorang pengidap fobia subjek tersebut
menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun
menakutkan.
Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan
mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus
dengan subjek Fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi.
Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan
oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan
takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu
keadaan yang sangat ekstrim seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya.
Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami
fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal
tersebut dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi
(katarsis) yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber Fobia
secara otomatis akan merasa cemas dan agar "nyaman" maka cara yang
paling mudah dan cepat adalah dengan cara "mundur kembali"/regresi
kepada keadaan fiksasi. Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi
menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali
ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang
terhadap subjek subjek fobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat.
Walaupun terlihat sepele, “pola” respon tersebut akan dipakai terus menerus
untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita fobia menjadi
semakin rentan dan semakin tidak produktif. Fobia merupakan salah satu dari
jenis jenis hambatan sukses lainnya
Penyakit ketakutan (fobia) adalah kecemasan yang
luar biasa, terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan
eksternal tertentu. penderita biasanya menghindari keadaan-keadaan yang bisa
memicu terjadinya kecemasan atau menjalaninya dengan penuh tekanan.
Penderita menyadari bahwa kecemasan yang timbul
adalah berlebihan dan karena itu mereka sadar bahwa mereka memiliki masalah.
Berikut ini adalah macam-macam fobia :
1. Agorafobia
arti harfiah dari agorafobia adalah takut akan
keramaian atau tempat terbuka. secara lebih khusus agorafobia menunjukkan
ketakutan akan terperangkap, tanpa cara yang mudah untuk terlepas bila
kecemasan menyerang. keadaan-keadaan yang sulit bagi penderita agoraphobia
adalah antri di bank atau pasar swalayan, duduk di tengah-tengah bioskop atau
ruang kelas dan mengendarai bis atau pesawat terbang. beberapa orang menderita
agorafobia setelah mengalami serangan panik pada salah satu keadaan tersebut.
yang lainnya hanya merasakan tidak nyaman dan tidak pernah mengalami serangan
panik.
Agorafobia sering mempengaruhi kegiatan sehari-hari,
kadang sangat berat sehingga penderita hanya diam di dalam rumah.
Pengobatan terbaik untuk agorafobia adalah terapi
pemaparan, dengan bantuan seorang ahli, penderita mencari, mengendalikan dan
tetap berhubungan dengan apa yang ditakutinya sampai kecemasannya secara
perlahan berkurang karena sudah terbiasa dengan keadaan tersebut (proses ini
disebut habituasi). psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami
pertentangan psikis yang melatarbelakangi terjadinya kecemasan.
2. fobia spesifik
Fobia spesifik merupakan penyakit kecemasan yang
paling sering terjadi. beberapa fobia spesifik (misalnya takut binatang,
kegelapan atau orang asing) mulai timbul pada masa kanak-kanak. banyak fobia
yang menghilang setelah penderita beranjak dewasa. fobia lainnya (misalnya
takut hewan pengerat, serangga, badai, air, ketinggian, terbang atau tempat
tertutup) baru timbul di kemudian hari. 5% penduduk menderita fobia tingkat
tertentu pada darah, suntikan atau cedera; dan penderita bisa mengalami
pingsan, yang tidak terjadi pada fobia maupun penyakit kecemasan lainnya.
sebaliknya, banyak pendeita penyakit kecemasan yang
mengalami hiperventilasi, yang menimbulkan perasaan akan pingsan, tetapi mereka
tidak pernah benar-benar pingsan.
penderita seringkali dapat mengatasi fobia spesifik
dengan cara menghindari benda atau keadaan yang ditakutinya. terapi pemaparan
merupakan sejenis terapi perilaku dimana penderita secara bertahap dihadapkan
kepada benda atau keadaan yang ditakutinya.
terapi ini merupakan pengobatan terbaik untuk fobia spesifik.
psikoterapi dilakukan agar penderita memahami
pertentangan psikis yang mungkin melatarbelakangi terjadinya fobia spesifik.
3. Fobia Sosial
Kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang
serasi dengan yang lainnya melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk
hubungan keluarga, pendidikan, pekerjaan, hobi, kencan dan perjodohan.
kecemasan tertentu dalam situasi sosial adalah normal, tetapi penderita fobia
sosial merasakan kecemasan yang berlebihan sehingga mereka menghindari situasi
sosial atau menghadapinya dengan penuh tekanan. penelitian terbaru menunjukkan
bahwa 13% penduduk pernah mengalami fobia sosial. keadaan-keadaan yang sering
memicu terjadi kecemasan pada penderita fobia sosial adalah:
-
berbicara di depan umum
-
tampil di depan umum (main drama atau main musik)
-
makan di depan orang lain
-
menandatangani dokumen sebelum bersaksi
-
menggunakan kamar mandi umum. penderita merasa penampilan atau aksi
mereka tidak tepat.
Mereka seringkali khawatir bahwa kecemasannya akan
tampak, sehingga mereka berkeringat, pipinya kemerahan, muntah, gemetaran atau
suaranya bergetar; jalan pikirannya terganggu atau tidak mampu menemukan
kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan maksud mereka.
Jenis fobia sosial yang lebih umum ditandai dengan
kecemasan pada hampir seluruh situasi sosial. penderita fobia sosial menyeluruh
biasanya merasa bahwa penampilannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, mereka
akan merasa terhina atau dipermalukan.
Beberapa orang memiliki rasa malu yang wajar dan
menunjukkan malu--malu pada masa kanak-kanak yang di kemudian hari berkembang
menjadi fobia sosial. yang lainnya mengalami kecemasan dalam situasi sosial
pertama kali pada masa pubertas.
Fobia sosial sering menetap jika tidak diobati,
sehingga penderita menghindari aktivitas yang sesungguhnya ingin mereka ikuti.
terapi pemaparan merupakan sejenis terapi perilaku yang efektif untuk mengatasi
fobia sosial.
Psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami
pertentangan batin yang mungkin melatarbelakangi terjadinya fobia sosial.
Beberapa istilah sehubungan dengan fobia :
afrophobia — ketakutan akan orang Afrika atau budaya
Afrika.
caucasophobia — ketakutan akan orang dari ras
kaukasus.
hydrophobia — ketakutan akan air.
photophobia — ketakutan akan cahaya.
antlophobia — takut akan banjir.
cenophobia — takut akan ruangan yang kosong
B. KELAINAN OBSESIF-KOMPULSIF
Penyakit Obsesif-Kompulsif ditandai dengan adanya
obsesi dan kompulsi.
Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang
berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau
menakutkan.
Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan
sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi.
PenyakiT obsesif-kompulsif berbeda dengan kelainan
kepribadian obsesif-kompulsif.Penyakit ini terjadi pada 2,3% dewasa. Dan
Penyebabnya tidak diketahui.
Obsesi yang umum bisa berupa kegelisahan mengenai
pencemaran, keraguan, kehilangan dan penyerangan. Penderita merasa terdorong
untuk melakukan ritual, yaitu tindakan berulang, dengan maksud tertentu dan
disengaja. Ritual dilakukan untuk mengendalikan suatu obsesi dan bisa berupa:
-
Mencuci atau membersihkan supaya terbebas dari pencemaran
- Memeriksa
untuk menghilangkan keraguan
-
Menimbun untuk mencegah kehilangan
-
Menghinidari orang yang mungkin menjadi obyek penyerangan.
Sebagian besar ritual bisa dilihat langsung, seperti
mencuci tangan berulang-ulang atau memeriksa pintu berulang-ulang untuk
memastikan bahwa pintu sudah dikunci. Ritual lainnya merupakan kegiatan batin,
misalnya menghitung atau membuat pernyataan berulang untuk menghilangkan
bahaya.
Penderita bisa terobsesi oleh segala hal dan ritual
yang dilakukan tidak selalu secara logis berhubungan dengan rasa tidak nyaman
yang akan berkurang jika penderita menjalankan ritual tersebut. Penderita yang
merasa khawatir tentang pencemaran, rasa tidak nyamannya akan berkurang jika
dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Karena itu setiap obsesi
tentang pencemaran timbul, maka dia akan berulang-ulang memasukkan tangannya ke
dalam saku celananya.
Sebagian besar penderita menyadari bahwa obsesinya
tidak mencerminkan resiko yang nyata.Mereka menyadari bahwa perliku fisik dan
mentalnya terlalu berlebihan bahkan cenderung aneh.Penyakit obsesif-kompulsif
berbeda dengan penyakit psikosa, karena pada psikosa penderitanya kehilangan
kontak dengan kenyataan. Penderita merasa takut dipermalukan sehingga mereka
melakukan ritualnya secara sembunyi-sembunyi. Dan sekitar sepertiga penderita
mengalami depresi ketika penyakitnya terdiagnosis.
1)
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan penuturan penderita mengenai
perilakunya.
2)
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menyingkirkan penyebab fisik dan
penilaian psikis dilakukan untuk menyingkirkan kelainan jiwa lainnya.
3) Untuk
memperkuat diagnosis bisa dilakukan wawancara berdasarkan kuosioner Skala
Obsesif-Kompulsif.
Untuk pengobatannya yakni dengan terapi pemaparan
yaitu sejenis terapi perilaku yang bisa membantu mengatasi penyakit ini.
Penderita dihadapkan kepada situasi atau orang yang memicu timbulnya obsesi,
ritual maupun rasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman atau kecemasan secara
bertahap akan berkurang jika penderita mencegah dirinya melakukan ritual selama
dihadapkan kepada rangsangan tersebut. Dengan cara ini, penderita memahami
bahwa untuk menghilangkan rasa tidak nyaman tidak perlu melakukan ritual.
Obat-obatan yang efektif untuk mengatasi penyakit
obsesif-kompulsif adalah klomipramin, fluoksetin dan fluvoksamin.
Psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami
pertentangan batin yang mungkin melatarbelakangi terjadinya penyakit ini.
Biasanya kombinasi dari psikoterapi dan obat-obatan merupakan pengobatan yang
terbaik bagi penyakit obsesif-kompulsif.
C. DEPRESI
Seseorang dikatakan depresi apabila aktifitas
fisiknya menurun, berpikir sangat lamban dan diikuti oleh perubahan suasana
hati. Sesorang yang mengalami depresi memiliki pemikiran yang negatif terhadap
dirinya sendiri, terhadap masa depan, dan ingatan mereka menjadi lemah, serta
kesulitan dalam mengambil keputusan.
Menurut Suryantha Chandra (2002 : 8), depresi adalah
suatu bentuk gangguan suasana hati yang mempengaruhi kepribadian seseorang.
Depresi juga merupakan perasaan sinonim dengan perasaan sedih, murung, kesal,
tidak bahagia dan menderita. Individu umumnya menggunakan istilah depresi untuk
merujuk pada keadaan atau suasana yang melibatkan kesedihan, rasa kesal, tidak
mempunyai harga diri, dan tidak bertenaga. Individu yang menderita depresi
aktifitas fisiknya menurun, berpikir sangat lambat, kepercayaan diri menurun,
semangat dan minat hilang, kelelahan yang sangat, insomnia, atau gangguan fisik
seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, rasa sesak didada, hingga keinginan
untuk bunuh diri (John & James, 1990 : 2).
Salah satu gejala depresi adalah pikiran dan gerakan
motorik yang serba lamban (retardasi psikomotor), fungsi kognitif (aktifitas
mental emosional untuk belajar, mengingat, merencanakan, mencipta, dan
sebagainya) terganggu. Jadi depresi mencakup dua hal kesadaran yaitu menurunnya
aktifitas dan perubahan suasana hati. Perubahan perilaku orang yang depresi
berbeda - beda dari yang ringan sampai pada kesulitan - kesulitan yang mendalam
disertai dengan tangisan, ekspresi kesedihan, tubuh lunglai dan gaya gerak
lambat (A. Supratiknya, 1995 : 67).
Menurut Maramis (1998 : 107), depresi adalah suatu
jenis keadaan perasaan atau emosi dengan komponen psikologis seperti rasa
sedih, rasa tidak berguna, gagal, kehilangan, putus asa, dan penyesalan yang
patologis. Depresi juga disertai dengan komponen somatik seperti anorexia,
konstipasi, tekanan darah dan nadi menurun. Dengan kondisi yang demikian,
depresi dapat menyebabkan individu tidak mampu lagi berfungsi secara wajar
dalam hidupnya.
Depresi pada lanjut usia kemungkinan akan sangat
berkaitan dengan proses penuaan yang terjadi pada diri lanjut usia, pada fase
tersebut sering terjadi perubahan fisik dan mental yang mengarah ke penurunan
fungsi. Proses menjadi tua menghadapkan lanjut usia pada salah satu tugas yang
paling sulit dalam perkembangan hidup manusia. Hurlock (1992 : 387 )
mengemukakan beberapa masalah yang umumnya unik pada lanjut usia, yaitu :
Keadaan fisik lemah dan tidak berdaya, sehingga
bergantung pada orang lain.
Status ekonominya sangat terancam, sehingga cukup
beralasan untuk melakukan berbagai perubahan besar dalam pola hidupnya.
Menentukan kondisi fisik yang sesuai dengan
perubahan status ekonominya.
Mencari teman untuk mengganti pasangan yang
meninggal atau cacat.
Mengembangkan kegiatan untuk mengisi waktu luang
yang semakin bertambah.
Belajar untuk memperlakukan anak – anak yang sudah
besar sebagai orang dewasa.
Mulai terlibat dalam kegiatan masyarakat yang secara
khusus direncanakan untuk orang dewasa.
Mulai merasakan kebahagiaan dari kegiatan yang
sesuai untuk orang berusia lanjut dan memiliki kemampuan untuk menggantikan
kegiatan lama yang berat dengan yang lebih cocok.
Menjadi korban atau dimanfaatkan oleh para penjual
obat “buaya darat”, dan kriminalitas karena tidak sanggup lagi mempertahankan
diri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa depresi pada
lanjut usia adalah suatu keadaan dimana individu mengalami gangguan psikologis
yang berpengaruh terhadap suasana hati, cara berpikir, fungsi tubuh dan
perilakunya, seperti rasa sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, insomnia,
putus asa dan merasa tidak berharga. Jadi keadaan depresi dapat diketahui dari
gejala dan tanda yang penting yang mengganggu kewajaran sikap dan tindakan
individu atau menyebabkan kesedihan yang mendalam.
Beck (dalam Nanik Afida dkk, 2000 :181) menjelaskan
depresi memiliki beberapa aspek emosional, kognitif, motivasional, dan fisik.
a. Aspek
yang dimanifestasikan secara emosional, yaitu :
1)
Perasaan kesal atau patah hati (dejected mood) ; perasaan ini
menggambarkan keadaan sedih, bosan dan kesepian yang dialami individu. Keadaan
ini bervariasi dari kesedihan sesaat hingga kesedihan yang terus - menerus.
2)
Perasaan negatif terhadap diri sendiri ; perasaan ini mungkin
berhubungan dengan perasaan sedih yang dijelaskan di atas, hanya bedanya
perasaan ini khusus ditujukan kepada diri sendiri.
3)
Hilangnya rasa puas ; maksudnya ialah kehilangan kepuasan atas apa yang
dilakukan. Perasaan ini dapat terjadi pada setiap kegiatan yang dilakukan
termasuk hubungan psikososial, seperti aktivitas yang menuntut adanya suatu
tanggung jawab.
4)
Hilangnya keterlibatan emosional dalam melakukan pekerjaan atau hubungan
dengan orang lain ; keadaan ini biasanya disertai dengan hilangnya kepuasan
diatas. Hal ini dimanifestasikan dalam aktivitas tertentu, kurangnya perhatian
atau rasa keterlibatan emosi terhadap orang lain.
5)
Kecenderungan untuk menangis diluar kemauan ; gejala ini banyak dialami
oleh penderita depresi, khususnya wanita. Bahkan mereka yang tidak pernah
menangis selama bertahun-tahun dapat bercucuran air mata atau merasa ingin
menangis tetapi tidak dapat menangis.
6)
Hilangnya respon terhadap humor ; dalam hal ini penderita tidak
kehilangan kemampuan untuk mempersepsi lelucon, namun kesulitannya terletak
pada kemampuan penderita untuk merespon humor tersebut dengan cara yang wajar.
Penderita tidak terhibur, tertawa atau puas apabila mendengar lelucon.
b. Aspek
depresi yang dimanifestasikan secara kognitif, yaitu :
1)
Rendahnya evaluasi diri ; hal ini tampak dari bagaimana penderita
memandang dirinya. Biasanya mereka menganggap rendah ciri - ciri yang
sebenarnya penting, seperti kemampuan prestasi, intelegensi, kesehatan,
kekuatan, daya tarik, popularitas, dan sumber keuangannya.
2) Citra
tubuh yang terdistorsi ; hal ini lebih sering terjadi pada wanita. Mereka
merasa dirinya jelek dan tidak menarik.
3)
Harapan yang negatif ; penderita mengharapkan hal - hal yang terburuk
dan menolak uasaha terapi yang dilakukan.
4)
Menyalahkan dan mengkritik diri sendiri ; hal ini muncul dalam bentuk
anggapan penderita bahwa dirinya sebagai penyebab segala kesalahan dan
cenderung mengkritik dirinya untuk segala kekurangannya.
5)
Keragu-raguan dalam mengambil keputusan ; ini merupakan karakteristik
depresi yang biasanya menjengkelkan orang lain ataupun diri penderita.
Penderita sulit untuk mengambil keputusan, memilih alternatif yang ada, dan
mengubah keputusan.
c. Aspek
yang dimanifestasikan secara motivasional ; meliputi pengalaman yang disadari
penderita, yaitu tentang usaha, dorongan, dan keinginan. Ciri utamanya adalah
sifat regresif motivasi penderita, penderita tampaknya menarik diri dari
aktifitas yang menuntut adanya suatu tanggung jawab, inisiatif bertindak atau
adanya energi yang kuat.
d. Aspek
depresi yang muncul sebagai gangguan fisik meliputi kehilangan nafsu makan,
gangguan tidur, kehilangan libido, dan kelelahan yang sangat.
Menurut Mendels (dalam Meyer, 1984 : 159) mengatakan
bahwa individu mengalami depresi jika individu mengalami gajala-gejala rasa
sedih, pesimis, membenci diri sendiri, kehilangan energi, kehilangan
konsentrasi, dan kehilangan motivasi. Selain itu individu juga kehilangan nafsu
makan, berat badan menurun, insomnia, kehilangan libido, dan selalu ingin
menghindari orang lain.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek
depresi adalah gejala depresi yang dapat dimanifestasikan secara emosional,
kognitif, motivasional, fisik dan pencernaan, raut wajah sedih, retardasi, dan
agitasi. Gejala yang dimanifestasikan secara emosional terdiri dari perasaan
kesal atau patah hati, perasaan negatif terhadap dirinya, hilangnya rasa puas,
hilangnya keterlibatan emosional,kecenderungan untuk menangis diluar kemauan,
dan hilangnya respon terhadap humor. Sedangkan gejala yang dimanifestasikan
secara kognitif meliputi sikap menyimpang penderita, baik terhadap diri,
pengalaman, dan masa depannya. Gejala yang dimanifestasikan secara motivasional
meliputi pengalaman yang disadari penderita, yaitu tentang usaha, dorongan, dan
keinginan , sedangkan gejala yang muncul sebagai gangguan fisik apabila terjadi
gangguan saraf otonom dan hipotalamus.
Dalam kehidupan individu, ada periode - periode
kritis yang berpengaruh terhadap perkembangan individu selanjutnya. Kurangnya
perhatian dan kasih sayang dari figur yang penting bagi individu pada periode
kritis akan mempengaruhi kecenderungan depresi pada masa yang akan datang. Pada
saat individu merespon kembali situasi serupa yaitu kurangnya kasih sayang dan
perhatian, maka individu mempunyai kecenderungan depresi yang lebih tinggi
dibandingkan pada orang yang tidak mengalami keadaan demikian.
Kehidupan manusia ditandai oleh interaksi individu
dengan lingkungannya. Depresi dapat timbul karena beberapa faktor, baik faktor
dari dalam maupun dari luar individu. Menurut Abraham (dalam Meyer, 1984 :
165), keadaan depresi didominasi oleh perasaan kehilangan, rasa bersalah dan
ada perasaan ambivalen antara cinta dan benci. Ambivalensi dari depresi ada
dua, yaitu :
a. Marah
dan benci terhadap objek cinta yang hilang kerena persepsi tentang dirinya yang
ditinggalkan atau ditolak.
b. Rasa
bersalah karena keyakinannya bahwa dirinya telah gagal merespon secara tepat
dan sesuai terhadap objek cinta yang hilang.
Arienti dam Bemporad (dalam Meyer, 1984 : 249),
menyatakan bahwa depresi sering terjadi pada orang yang mengalami kehilangan
anak - anak. Situasi yang menyenangkan akan hilang jika ada kehadiran anggota
keluarga lain seperti adik sehingga perhatian ibu terbagi, karena kematian
orang tua, ditinggalkan oleh orang terdekat dengan individu, dan bisa juga
disebabkan oleh larangan yang mendadak terhadap perilaku anak yang sudah
menetap. Individu akan menyerap gaya hidup yang ditujukan untuk meraih
keberhasilan dalam menyenangkan orang yang demikian tersebut. Harapan - harapan
tersebut seringkali melebihi kemampuan individu sehingga terjadi kegagalan,
individu akan mencela dan menyalahkan diri sendiri.
Jadi depresi terjadi karena hilangnya objek
eksternal yang bernilai tinggi bagi individu tersebut. Kehilangan didefinisikan
sebagai kehilangan objek cinta utama, yaitu sesorang, sesuatu atau aktifitas.
Depresi menurut teori kognitif disebabkan oleh adanya
bentuk-bentuk pemikiran yang tidak logis. Individu yang depresi cenderung
berpikir dengan cara yang menyimpang dan penyimpangan ini menimbulkan masalah
baru dan memperburuk keadaan yang ada serta meningkatkan perputaran yang
memyebabkan depresi. Hal ini dipertegas oleh Ellis (dalam Meyer, 1984 : 187)
yang mengatakan bahwa cara individu memandang dan berpikir tentang dirinya
sendiri akan menimbulkan gangguan tertentu seperti depresi.
Menurut Ferster ( dalam Meyer, 1984 : 167 ) depresi
dapat timbul karena salah satu daridua proses dibawah ini, yaitu :
a.
Perubahan lingkungan seperti anggota keluarga atau kehilangan pekerjaan
dapat membatasi (reinforcement) yang diterima individu. Individu yang
menyandarkan diri pada satu atau dua reinforcement akan cenderung mudah
terserang depresi karena kurangnya reinforcement.
b.
Ditinjau dari perilaku menghindar, depresi muncul pada saat usaha
menghindar di lingkungan menjadi kuat. Dalam kasus ini depresi timbul karena
individu ingin menghindari kecemasan. Jika individu menarik diri dari stimulus
yang menyebabkan kecemasan, maka akan kehilangan dengan kontak reinforcement
sosial, dan akan timbul depresi.
Dari beberapa uraian diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa depresi terjadi karena individu kehilangan objek eksternal yang bernilai
tinggi bagi individu tersebut. Kehilangan yang dimaksud adalah kehilangan objek
cinta utama, seperti kehilangan pasangan hidup, anak atau teman. Hal ini
menyebabkan individu tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik, sehingga tidak
menutup kemungkinan individu akan mudah mengalami gangguan depresi.
Menurut Birren (1980 : 629) ada beberapa faktor yang
menimbulkan depresi, yaitu :
a.
Faktor individu yang meliputi :
1) Faktor
biologis seperti genetik, proses menua secara biologis, penyakit fisik
tertentu.
2) Faktor
psikologis seperti kepribadian, proses menua secara psikologis. Pada
kepribadian introvert akan berusaha mewujudkan tuntutan dari dalam dirinya dan
keyakinannya, sedangkan kepribadian ekstrovert membentuk keseimbangan dirinya
dengan menyesuaikan keinginan - keinginan dari orang lain.
b. Faktor
kejadian - kejadian hidup yang penting bagi individu
Kehilangan seseorang ataupun sesuatu dapat
menimbulkan depresi. Penyakit fisik juga berhubungan dengan serangan afeksi
karena penyakit merupakan ancaman terhadap daya tahan individu, terhadap
kemampuan kerjanya, kemampuan meraih apa yang diinginkannya dan merupakan
ancaman terhadap aktifitas motorik dan perasaan sejahtera individu.
c.
Faktor lingkungan yang meliputi faktor sosial, faktor budaya, dan faktor
lingkungan fisik.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
ada beberapa faktor yang menyebabkan depresi, diantaranya adalah proses menua
secara biologis, penyakit fisik, kepribadian, kehilangan orang yang dicintai,
dan faktor lingkungan.
D. MANIC DEPRESI
Manic depresi atau depresi bipolar sebenarnya
dianggap sebagai salah satu jenis terburuk dari depresi yang biasanya orang
derita. Ditandai dengan perubahan tiba-tiba dan ekstrim dalam suasana hati
mereka, Maniac depresi dikatakan disebut seperti itu karena maniak = mania
mengacu pada “up” sambil depresi mengacu pada “down”. Tapi saat ini disebut
mood pergi ke absurditas, dikarenakan kesal bahkan oleh terkecil atau paling
sederhana menipis seperti tidak mendapatkan es krim rasa favorit Anda, ini
tidak mungkin hanya tanda brattiness, namun ketika mendapatkan kesal kemudian
ada makian dan bersumpah pada vendor es krim dan melemparkan tantrum tidak
masuk akal, ini mungkin sudah menjadi awal dari Manic depression.
Disebut “manik” atau “up” dalam depresi Manic
digambarkan sebagai menjadi-jadi saat tertentu ketika seseorang menderita
depresi Manic mungkin mengalami periode yang terlalu tinggi, yang terdiri dari
tinggi energi, ledakan tiba-tiba suasana hati gembira, iritabilitas ekstrim, balap
pikiran serta perilaku agresif. Menurut terapi, seseorang menderita depresi
Manic mungkin ledakan dimana ini disebut “periode” manik tiba-tiba mengalami
perubahan suasana hati gembira meninggi tidak hanya sehari, di benar-benar
dapat berlangsung selama satu minggu, bahkan lebih lama dari itu.
Ketika datang yang disebut periode “rendah” atau
“turun”, seperti namanya benar-benar dapat membawa seseorang yang menderita
depresi Manic mungkin mengalami gejala yang sangat mirip dengan mereka yang
menderita depresi yang sebenarnya. Orang yang menderita depresi Manic
benar-benar dapat mengalami episode depresi yang menunjukkan keadaan pikiran -
perasaan tidak berharga dan tidak dicintai mungkin mulai merusak pikiran
individu. Berbagai gejala, menunjukkan rasa bersalah, kesedihan ekstrim,
serangan kecemasan, perasaan pesimisme ekstrim dan tidak mengalami kesenangan.
Menurut pakar terapi, individu yang tertekan. secara konsisten selama lebih
dari seminggu resmi dapat didiagnosis sebagai seseorang yang menderita depresi
Manic.
Meskipun menjadi salah satu dari jenis, yang paling
umum belum parah gangguan depresif, Manic depresi, menurut dokter sebenarnya
dapat diobati. Tidak ada alasan untuk terlalu khawatir tentang hal itu, hanya
mengikuti prosedur yang tepat bahwa terapis akan menginstruksikan Anda untuk
melakukan, mengambil obat yang diresepkan tepat serta dosis yang tepat untuk
membantu Anda (atau teman Anda atau mencintai satu) mengatasi Manic depresi
sebelum menjadi terlambat. Meskipun hasil positif untuk pasien depresi Manic
masih dapat dicapai dari alternatif alam, tepat dan bantuan lebih kekal dari
gejala depresi Manic masih dapat menjadi yang terbaik diperoleh melalui melihat
perilaku kognitif terapis.
Berlawanan dengan beberapa keyakinan, ketika datang
ke perawatan kejiwaan, psikiater, terapis perilaku kognitif sebaiknya masih
yang terbaik untuk berkonsultasi untuk depresi manik, serta orang-orang yang
akan paling mungkin dapat menyembuhkan depresi Manic.
E. KEPRIBADIAN GANDA
Kepribadian ganda/ alter ego, adalah kepribadian
manusia yang terdiri dari dua atau lebih yang tumbuh bersama-sama dalam satu
badan manusia tersebut. masa-masa kritis di mana seseorang bisa memiliki
kepribadian ganda adalah masa-masa saat ia mulai mencari jati diri.
Begitu banyak faktor-faktor yang mempengaruhi mereka
dalam mencari jati diri, di antaranya: tekanan orang tua harus jadi ini itu
dll, tekanan lingkungan, tekanan dari diri sendiri yang ingin menunjukkan bahwa
dirinya hebat, & tekanan untuk diakui. itu sebabnya, jangan pernah merasa
bahagia bila memiliki anak abg yang pendiam!! sangat pendiam!! karena bisa saja
dia menyimpan sesuatu semacam bom waktu. masa-masa abg adalah masa-masa yang
rawan, karena biasanya di masa-masa itulah anak mulai mencari jati dirinya.
Tekanan dari keluarga!! adalah faktor paling
berpengaruh dalam proses pencarian jati diri. tekanan yang bertubi-tubi dari
keluarga, tidak adanya pengakuan, selalu disalahkan, dianggap tak bisa apa-apa,
diejek, dicaci maki karena nilai turun, dll membuat “harga diri” seorang anak
menjadi jatuh dan bila anak tersebut tidak kuat, maka anak tersebut bisa
mengidap kepribadian ganda.
Ironisnya, sebagian besar orang tua di indonesia
menganggap sikap mereka yang kolot itu benar!! dan mereka sama sekali tak mau
mengerti perasaan si anak. sehingga jangan salahkan bila si anak jadi
introvert. “jika anda termasuk orang yang suka curhat kepada diri sendiri dan
seolah – olah selalu mampu menyelesaikan persoalan pribadi sendirian tanpa
merasa butuh orang lain, maka anda termasuk orang berkepribadian ganda.”
Pertanyaanya adalah apakah orang yang berkepribadian
ganda selalu introvert? tidak juga, banyak juga orang yang berkepribadian ganda
yang memiliki sikap ramah, sangat ramah dibandingkan orang pada umumnya. mereka
juga kadang mudah mengasihi dan bersimpati. tapi jangan sekali-sekali menyakiti
hatinya dan mengkhianatinya, karena sekalinya ia dikhianati, ia bisa berubah
jadi pembunuh kejam. itu sebabnya tak mengherankan jika banyak pembunuh yang
berlatar belakang orang baik-baik di masa lalunya. dan ternyata di dunia ini
banyak sekali orang “gila” atau memiliki gangguan jiwa, namun mereka tidak
sadar. mungkin, jumlah orang yang memiliki gangguan jiwa di luar rumah sakit
jiwa sebenarnya jauh lebih banyak. setiap manusia memiliki potensi untuk
mengalami gangguan jiwa. agak menyeramkan, tapi berdasarkan banyaknya
kejadian-kejadian di sekitar kita, tak salah bila kita memiliki kesimpulan
seperti itu. dari kalangan orang terkenalpun ternya ada yang mengalami gangguan
jiwa. contohnya :
1. John
Nash: ilmuwan dan peraih nobel yg kisah hidupnya di film kan di film beautiful
mind, yang ternyata mengidap penyakit skizofrenia atau penyakit suka
berhalusinasi
2.
Virginia Wolf: seorang penulis terkenal dan langganan mendapatkan
penghargaan, namun mengakhiri hidupnya dengan tragis, yaitu menenggelamkan diri
di laut alias bunuh diri, karena dia merasa hidupnya tak bahagia. setelah
ditelusuri ternyata virginia wolf mengidap penyakit skizofrenik. kisah hidupnya
juga difilmkan di film the hours dg pemeran utama nicole kidman.
3.
Einstein yang ternyata seorang disleksia syndrome.[4]
D. SCHIZOPHRENIA
Schizophrenia merupakan gangguan psikotik, hampir
satu persen penduduk dunia menderita psikotik dalam hidup mereka. Schizophrenia
sering terjadi pada populasi urban dan kelompok social ekonomi rendah.
Terdapat indikasi yang nyata bahwa schizophrenia
adalah sebuah gangguan yang terjadi pada fungsi otak. Ditulis dalam buku The
Broken Brain: The Biological Revolution in Psychiatry bahwa bukti-bukti terkini
tentang serangan schizophrenia merupakan suatu hal yang melibatkan banyak
factor. Faktor ini meliputi [erubahan struktur fisik otak, perubahan struktur
sel kimia otak, dan factor genetic.
Schizophrenia terbentuk secara bertahap, di mana
keluarga maupun penderita tidak menyadari ada sesuatu yang tidak beres dalam
otaknya dalam jangka waktu lama. Kerusakan perlahan ini yang akhirnya menjadi
schizophrenia yang tersembunyi dan berbahaya. Gejala yang timbul perlahan ini
mungkin saja menjadi schizophrenia akut; gangguan yang singkat, kuat, meliputi
halusinasi, delusi (penyesatan pikiran), dan kegagalan berpikir.
Kadang, schizophrenia muncul secara tiba-tiba.
Perubahan perilaku dramatis terjadi dalam waktu beberapa hari atau minggu.
Beberapa penderita mengalami gangguan seumur hidup, tapi tak sedikit yang bisa
hidup normal kembali. Kebanyakan didapati bahwa mereka dikucilkan, menderita
depresi hebat, dan tidak mampu berfungsi layaknya orang normal dalam
lingkungannya.
Pada beberapa kasus, serangan dapat meningkat
menjadi schizophrenia kronis. Penderita menjadi buas, kehilangan karakter
sebagai manusia dalam kehidupan social, tidak memiliki motivasi, depresi, dan
tidak memiliki kepekaan tentang perasaannya sendiri.
Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu
kuat dan otak tidak mampu menginterpretasikan dan merespon pesan/rangsangan
yang datang. Penderita mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang
sebenarnya tidak ada.
Penderita juga mengalami delusi, yaitu kepercayaan
yang kuat dalam menginterpretasikan sesuatu yang kadang-kadang berlawanan
dengan kenyataan. Misalnya, pada penderita, lampu trafik di jalan raya yang
berwarna merah kuning hijau dianggap sebagai isyarat dari luar angkasa.
Beberapa penderita berubah menjadi paranoid. Mereka selalu merasa sedang
diamati, diintai, atau hendak diserang.
Depresi yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong
dan berharap, selalu menjadi bagian dari hidup penderita. Mereka tidak merasa
memiliki perilaku yang menyimpang, tidak bisa membina hubungan dengan orang
lain, dan tidak mengenal cinta. Perubahan otak secara biologis juga memberi
andil dalam depresi. Depreso yang berkelanjutan akan membuat penderita menarik
diri dari lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila sendirian.
Schizophrenia merupakan penyakit otak yang timbul
akibat ketidakseimbangan dopamine (salah satu sel kimia dalam otak).
Schizophrenia adalah gangguan jiwa psikotik yang paling lazim dengan ciri
hilangnya perasaan afektif atau respon emosional dan menarik diri dari hubungan
antar pribadi normal. Sering diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah; aneh)
dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang panca indera).
Penyakit ini bisa mengenai siapa saja. Tahukah Anda
bahwa 75 persen penderita mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun? Usia remaja
dan dewasa muda memang beresiko tinggi karena tahap ini penuh stressor
(penyebab stress). Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan
lingkungannya karena dianggai sebagai tahap penyesuaian diri dan proses
pencarian jati diri. Dalam beberapa kasus, schizophrenia menyerang usia muda
antara 15-20 tahun. Tetapi serangan kebanyakan terjadi pada usia 40 tahun ke
atas.
Schizophrenia itu genetic. Benarkah demikian?
Penelitian genetika molecular modern, terutama penelitian keterkaitan kromosom,
tidak menemukan sesuatu yang pasti. Saat ini consensus ahli menyatakan bahwa
schizophrenia multi factorial secara genetic. Menurut pendapat saya, genetiknya
penyakti ini disebabkan oleh beberapa hal yang terkait dengan lingkungannya.
Pengasuhan yang salah menjadi salah satu pemicunya. Jika anak tumbuh menjadi
individu yang manja, maka ia lebih berpotensi mengidap penyakit ini. Selain
itu, keluarga besar (memiliki banyak saudara) juga menjadi salah satu
penyebabnya. Problem saudara rentan terjadi sehingga memicu stress dan depresi
pada individu.
Gejala Penderita Schizophrenia adalah :
1)
Indikator premorbid (pra-sakit) pre_schizophrenia antara lain adalah
ketidakmampuan seseorang dalam mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang
tersenyum, acuh tak acuh.
2) Pasien
juga menderita penyimpangan komunikasi : sulit melakukan pembicaraan terarah,
kadang menyimpang atau berputar-putar (sirkumstansial).
3) Gejala
lainnya adalah gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan,
mempertahankan atau memindahkan atensi.
Selain ketiga hal di atas, gangguan perilaku juga
menunjukkan gejala: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara social, tidak
bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan yang jelas, mengganggu.
Tak hanya remaja dan orang dewasa yang diserang oleh
penyakit ini. Pada bayi biasanya terdapat problem makan, gangguan tidur kronis,
tonus otot lemah, apatis, dan ketakutan terhadap objek atau benda yang bergerak
cepat. Pada balita, terdapat ketakutan yang berlebihan terhadap hal-hal baru
seperti potong rambut, takut gelap, terhadap label pakaian, takut terhadap
benda-benda bergerak.
Pada anak usia 5-6 tahun, ia mengalami halusinasi
suara seperti mendengar bunyi letusan, bantingan pintu atau bisikan, mungkin
juga halusinasi visual seperti melihat sesuatu yang bergerak meliuk-liuk, ular,
bola-bola bergelindingan, lintasan cahaya dengan latar belakang warna gelap.
Anak terlihat bicara atau tersenyum sendiri, menutup telinga, sering mengamuk
tanpa sebab.
Meski bayi dan anak-anak dapat menderita
schizophrenia atau penyakit psikotik lainnya, keberadaan schizophrenia dalam
grup ini sangat sulit dibedakan dengan neurosis (gangguan jiwa) seperti
autisme, sindrom Asperger atau hiperaktif. Untuk itu, diagnosanya harus
dilakukan dengan sangat berhati-hati oleh psikiater atu pun psikolog yang
bersangkutan.
Untuk mendiagnosis seseorangitu penderita
schizophrenia, harus memiliki beberapa criteria:
berlangsung paling sedikit enam bulan
penuruan fungsi yang cukup bermakna, yaitu di bidang
pekerjaan, hubungan interpersonal, dan fungsi mendukung diri sendiri.
pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk khas
selama sebagian dari periode tersebut.
tidak ditemui gejala-gejala yang sesuai dengan
skizoafektif, gangguan mood mayor, autisme, atau gangguan organic.
Gangguan pada penderita Schizophrenia terjadi pada
Gangguan Bentuk Pikiran, yakni :Asosiasi langar : ide tidak saling berkaitan
Overinklusif : arus pikiran pasien secara terus
menerus mengalami gangguan karena pikirannya sering dimasuki informasi yang
tidak relevan
Neologisme : pasien menciptakan kata-kata baru atau
yang bagi mereka mungkin mengandung arti simbolik.
Bloking : pembicaraan tiba-tiba berhenti dan
disambung kembali beberapa saat kemudian (biasanya dengan topic lain)
Klanging : pasien memilih kata-kata dan tema
sekaligus berdasarkan bunyi/kata-kata yang baru saja diucapkan dan bukan
merupakan isi pikirannya
Ekolalia : pasien mengulang kata-kata atau kalimat
yang baru saja diucapkan seseorang, tetapi dengan gaa musical dan lagu; tanpa
upaya yang jelas untuk berkomunikasi
Konkritisasi : pasien dengan IQ rata-rata normal/
lebih tinggi, tetapi berpikir abstraknya buruk
Alogia : pasien berbicara sangat sedikit
Kegagalan berpikir mengarah kepada masalah penderita
tidak mampu memroses dan mengatur pikirannya. Kebanyakan penderita tidak mampu
memahami hubungan antara kenyataan dan logika. Ketidakmampuan dalam berpikir
ini mengakibatkan ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi dan perasaan. Tak
jarang kita melihat penderita tertawa sendiri atau berbicara sendiri tanpa
mempedulikan sekelilingnya. Hal di atas mengakibatkan penderita tidak mampu
memahami siapa dirinya, tidak berpakaian, dan lainnya. Ia juga tidak mengerti
kapan ia lahir, di mana ia berada, dan sebagainya.termasuk diantaranya :
1)
Gangguan Isi Pikir adalah suatu keyakinan kokoh yang salah dan tidak
sesuai dengan fakta/keyakinan. Keyakinan tsb mungkin aneh dan tetap
dipertahankan meskipun telah diperlihatkan bukti-bukti jelas untuk
mengoreksinya.
2)
Gangguan Persepsi (Halusinasi) adalah hal yang paling sering ditemui.
Biasanya berupa halusinasi auditorik, tetapi bisa juga visual.
3)
Gangguan Emosi
· Afek
tumpul datar: ekspresi emosi pasien sedikit bahkan ketika afek tersebut
seharusnya diekspresikan, pasien tidak menunjukkannya
· Afek
tidak serasi : afeknya mungkin kuat, tetapi tidak sesuai antara pikiran dan
pembicaraan pasien
· Afek
labil : dalam jangka waktu pendek, terjadi perubahan afek yang jelas
F. PSIKOTERAPI
Psikoterapi adalah pengobatan dengan secara
psikologis untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku.
Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu "Psyche"
yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya
penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut
juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.
Orang yang melakukan psikoterapi disebut
Psikoterapis (Psychotherapist). Seorang psikoterapis bisa dari kalangan dokter,
psikolog atau orang dari latar belakang apa saja yang mendalami ilmu psikologi
dan mampu melakukan psikoterapi.
Psikoterapi merupakan proses interaksi formal antara
dua pihak atau lebih, yaitu antara klien dengan psikoterapis yang bertujuan
memperbaiki keadaan yang dikeluhkan klien. Seorang psikoterapis dengan
pengetahuan dan ketrampilan psikologisnya akan membantu klien mengatasi keluhan
secara profesional dan legal.
Ada tiga ciri utama psikoterapi, yaitu:
Dari segi proses :
berupa interaksi antara dua pihak, formal, profesional, legal dan
menganut kode etik psikoterapi.
Dari segi tujuan : untuk mengubah kondisi psikologis
seseorang, mengatasi masalah psikologis atau meningkatkan potensi psikologis
yang sudah ada.
Dari segi tindakan: seorang psikoterapis melakukan
tindakan terapi berdasarkan ilmu psikologi modern yang sudah teruji
efektivitasnya.
Psikoterapi didasarkan pada fakta bahwa aspek-aspek
mental manusia seperti cara berpikir, proses emosi, persepsi, believe system,
kebiasaan dan pola perilaku bisa diubah dengan pendekatan psikologis. Tujuan
psikoterapi antara lain:
Menghapus, mengubah atau mengurangi gejala gangguan
psikologis.
Mengatasi pola perilaku yang terganggu.
Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan
kepribadian yang positif.
Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang
benar.
Menghilangkan atau mengurangi tekanan emosional.
Mengembangkan potensi klien.
Mengubah kebiasaan menjadi lebih baik.
Memodifikasi struktur kognisi (pola pikiran).
Memperoleh pengetahuan tentang diri / pemahaman
diri.
Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan interaksi
sosial.
Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan.
Membantu penyembuhan penyakit fisik.
Meningkatkan kesadaran diri.
Membangun kemandirian dan ketegaran untuk menghadapi
masalah.
Penyesuaian lingkungan sosial demi tercapai
perubahan dan masih banyak lagi.
Psikoterapi berbeda dengan pengobatan tradisional yang sering memandang
gangguan psikologis sebagai gangguan karena sihir, kesurupan jin atau karena
roh jahat. Anggapan-anggapan yang kurang tepat tersebut karena sebagian
masyarakat terlalu mempercayai tahayul dan kurang wawasan ilmiahnya.
Dalam psikoterapi, gangguan psikologis
diidentifikasi secara ilmiah dengan standar tertentu. Kemudian dilakukan proses
psikoterapi menggunakan cara-cara modern yang terbukti berhasil mengatasi
hambatan psikologis. Dalam psikoterapi tidak ada hal-hal yang bersifat mistik.
Klien psikoterapi juga tidak diberi obat, karena yang sakit adalah jiwanya,
bukan fisiknya.
Psikoterapi bukan untuk menangani orang gila (orang
yang rusak otaknya). Justru
psikoterapi hanya digunakan untuk
menangani orang waras yang sedang mengalami masalah psikologis, atau untuk
membantu orang normal yang ingin meningkatkan kemampuan pikirannya. Sedangkan
penanganan orang gila adalah urusan Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
Dalam sesi Psikoterapi, Anda akan diajak membahas
dan menganalisa hambatan psikologis yang ada dalam diri Anda, kemudian mencari
pemecahannya dengan cara menerapkan metode psikoterapi yang paling cocok.
Psikoterapi hanya bisa dilakukan apabila Anda ingin disembuhkan atau ingin
berubah. Psikoterapi tidak bisa dipaksakan kepada orang yang tidak mau dibantu.
Ada banyak metode psikoterapi yang bisa diterapkan,
diantaranya adalah Psychoanalysis, Gestalt Therapy, Cognitive Behavioural
Therapy, Behaviour Therapy, Body-Oriented Psychotherapy, Expressive Therapy,
Interpersonal Psychotherapy, Narrative Therapy, Conditioning, Mental Imagery,
Neurolinguistic Programming, Laughter Therapy, Self Programming, Spiritual
Therapy, Transpersonal Psychotherapy, Relaxation Therapy, Forgiveness Therapy,
Trance Psychotherapy, Neurofeedback dan
masih banyak lagi. Psikoterapis yang memahami masalah Anda akan memberikan
metode terapi yang paling tepat bagi Anda.
Interaksi antara Anda dan psikoterapis akan seperti
persahabatan. Seorang psikoterapi tidak bisa membantu dengan maksimal apabila
Anda tidak mau terbuka mengenai masalah Anda. Oleh karena itu, sebelum
Anda menemui psikoterapi (dalam hal ini
adalah Mr. Indra Majid), Anda harus membuka diri untuk mendapatkan sahabat
baru.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar