Mengenal Lebih Jauh Penyakit Pica (Gangguan Makan
Yang Aneh)
Pernahkah Anda melihat orang yang makan makanan aneh
seperti tanah, pasir, kapur, puntung rokok, lampu, bulu bahkan kotoran
binatang. Bisa jadi orang itu menderita Pica, penyakit pola makan yang aneh.
Mari Mengenal Lebih Jauh Penyakit Pica (Gangguan Makan Yang Aneh)
Selamat datang kembali di website Alfian Herbal yang
merupakan agen resmi Green World yaitu pusat penjualan obat herbal online
terbesar dan terpercaya, kami melayani pesanan dan pengiriman ke seluruh
wilayah Indonesia dan luar negeri dengan sistem pelayanan “Kirim Barang Dahulu
Setelah Barang Sampai Baru Transfer Pembayaran“.
Mengenal Lebih Jauh Penyakit Pica (Gangguan Makan
Yang Aneh)
Mengenal Lebih Jauh Penyakit Pica (Gangguan Makan
Yang Aneh) – Pika adalah gangguan makan dimana penderita sering mengkonsumsi
zat-zat yang tidak bergizi secara terus menerus selama kurang lebih satu bulan.
Pika jauh lebih sering ditemukan pada anak kecil dibandingkan dengan orang
dewasa. Hal ini terjadi karena kebiasaan anak mencoba-coba dan dibiarkan karena
tidak diketahui oleh orang tua (orang dewasa yang mengasuh anak). Dilaporkan
penderita pika itu dapat mengkonsumsi berbagai macam zat non pangan diantaranya
tanah liat, pasir, batu, kerikil, rambut, es, kayu, kuku, kertas, kapur, batu
bara, bahkan kotoran.
Sebanyak 10 hingga 32 persen anak-anak usia 1-6
tahun punya kebiasaan makan yang aneh ini. Tak hanya anak-anak, Pica juga bisa
terjadi pada ibu hamil, terutama yang mengalami gangguan psikologis. Pica juga
terjadi pada orang dewasa yang sedang diet, ketagihan tekstur tertentu pada
mulutnya atau yang punya masalah sosial atau ekonomi.
Apa yang menyebabkan seseorang menderita Pica ??
Penyebabnya hingga kini masih belum diketahui dengan
jelas. Tapi beberapa peneliti menduga kurangnya zat besi dan anemia memicu pola
makan tersebut. Penderita Pica biasanya sering makan tanah, pasir, daun, batu,
kapur, puntung rokok, lampu, pensil, besi, es, cat, tanah liat, bulu binatang,
lumpur bahkan kotoran binatang.
Malnutrisi sering didiagnosa bersama dengan pica.
Hubungan sebab-akibat belum ditemukan. Memakan tanah liat ditemukan terkait
dengan kekurangan zat besi; akan tetapi, apakah absorpsi zat besi yang
berkurang disebabkan oleh memakan tanah liat atau apakah kekurangan zat besi
mendorong orang memakan tanah liat, masih belum diketahui. Beberapa kelompok
kultural disebutkan mengajari anak-anaknya memakan tanah liat. Orang-orang yang
menderita anemia defisiensi zat besi juga telah dilaporkan mengunyah batu es.
Namun lagi-lagi mekanisme atau hubungan sebab akibatnya tidak diketahui.
Gejala dan tanda seperti apa yang muncul pada
penderita Pica ??
Penyakit Pica tidak ada tanda maupun gejalanya.
Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan tes darah guna
mengetahui kandungan besi dan seng. Meskipun anak-anak memang sering memasukkan
semua benda ke dalam mulutnya, tapi orang tua harus waspada dan curiga jika hal
itu menjadi kebiasaan.
Gejala-gejala pica berbeda-beda menurut benda yang
dimakan.
Pasir atau tanah terkait dengan nyeri lambung dan
perdarahan sesekali.
Mengunyah batu es bisa menyebabkan kenampakan yang
abnormal pada gigi.
Memakan tanah liat bisa menyebabkan sembelit
(konstipasi)
Menelan benda-benda logam bisa menyebabkan perforasi
usus
Memakan benda kotoran sering mengarah pada penyakit
infeksi seperti toksocariasis, toksoplasmosis, dan trichuriasis.
Memakan timah bisa menyebabkan kerusakan ginjal dan
keterbelakangan mental.
Faktor-faktor risiko untuk pica mencakup hal-hal
berikut:
psikopatologi
orang tua/anak
ketidakteraturan
rumah tangga
keterkucilan
dari lingkungan
kehamilan
epilepsi
kerusakan
otak
keterbelakangan
mental
gangguan-gangguan
pertumbuhan yang pervasif
Diagnosis Pica
Untuk didiagnosa mengalami Pica, seseorang harus
memperlihatkan tanda-tanda selama sekurang-kurangnya satu bulan. Tidak ada tes
medis khusus yang bisa menguatkan Pica. Cukup sering, Pica hanya terlihat dan
diketahui ketika telah menghasilkan komplikasi yang menyebabkan seseorang
mendapatkan perhatian medis. Tidak ada pencegahan khusus untuk Pica. Individu
didorong untuk memakan makanan bergizi yang sesuai dan mengikuti
panduan-panduan kesehatan yang diperlukan untuk kesehatan yang optimum.
Penanganan Pica
Penanganan pada penderita pica harus dilakukan
secara menyeluruh. Mulai dari lingkungan keluarga dengan memberinya pendidikan
perilaku yang benar dan juga hukuman bila memakan benda-benda yang tidak
semestinya dimakan. Selain itu, bantuan dari psikolog dan psikiater pun
diperlukan. Pada umumnya, pemberian hukuman cukup efektif membantu mengatasi
kelainan tersebut. Bilamana penderita pica juga atau telah mengalami kelainan
mental, maka pemberian obat-obatan dibutuhkan.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar